Pelaut adalah tulang punggung perdagangan global, namun pekerjaan mereka sering kali terisolasi, jauh dari keluarga selama berbulan-bulan, dan berada di bawah tekanan operasional yang tinggi. Setelah pandemi, isu Kesehatan Mental Pelaut (Seafarer Wellness) telah menjadi permasalahan kritis. Stres, kelelahan, dan kesepian dapat menyebabkan kecelakaan fatal, menurunnya performa, dan bahkan bunuh diri. IMO dan industri kini mendesak adanya Perwira yang memiliki kompetensi kepemimpinan dan perhatian terhadap kesejahteraan kru.
Akademi Maritim Aceh Darussalam (AMA Darussalam) menyadari bahwa Perwira Pelayaran masa kini harus menjadi Pemimpin yang Empatik dan memiliki pemahaman dasar tentang mental health. Institusi ini berkomitmen menghasilkan Perwira yang Holistik, yang mampu mengelola kapal dan mesin, sekaligus menjaga stabilitas psikologis dan motivasi seluruh awak kapal.
Tiga Fokus Utama AMA Darussalam dalam Seafarer Wellness
AMA Darussalam mengintegrasikan modul soft skills, etika kepemimpinan, dan kesehatan mental ke dalam pendidikan kepelautan:
1. Kepemimpinan Berbasis Empati dan Komunikasi Terbuka
Perwira adalah figur otoritas yang harus mampu menciptakan lingkungan kerja yang suportif.
- Teknik Konseling Dasar: Taruna dilatih dalam teknik mendengarkan aktif dan komunikasi terbuka, memungkinkan mereka mengenali tanda-tanda awal stres, burnout, atau depresi pada kru junior dan senior.
- Manajemen Konflik Budaya: Lulusan dibekali skill manajemen konflik antar kru yang memiliki latar belakang budaya berbeda, memastikan konflik diselesaikan secara damai sebelum memicu masalah psikologis.
2. Membangun Budaya Connectedness di Atas Kapal
Mengatasi isolasi dan kesepian adalah kunci wellness.
- Pemanfaatan Teknologi: Perwira dilatih untuk mengelola akses internet dan komunikasi satelit di kapal secara adil, memastikan kru tetap terhubung dengan keluarga, yang merupakan faktor penting dalam mitigasi kesepian.
- Program Rekreasi: Mampu merencanakan dan mengorganisir kegiatan rekreasi dan olahraga di atas kapal selama waktu luang (port stay atau sea passage) untuk menjaga semangat tim dan kebugaran mental.
3. Kepatuhan Standar MLC dan Fatigue Management
Kesehatan fisik yang terganggu secara langsung memengaruhi kesehatan mental.
- Manajemen Kelelahan (Fatigue Management): Lulusan dibekali pengetahuan tentang regulasi Maritime Labour Convention (MLC) terkait jam kerja dan jam istirahat. Perwira harus tegas memastikan kru tidak bekerja melampaui batas (fatigue) yang dapat merusak kinerja dan kesehatan mental.
- Akses Layanan Dukungan: Perwira dilatih mengetahui dan memfasilitasi akses kru ke layanan dukungan kesehatan mental profesional (helplines atau tele-counseling) yang disediakan oleh perusahaan pelayaran.

Leave a Reply