Bayangin aja, Indonesia butuh 8.600 pelaut baru tiap tahun sampai 2030, tapi supply-nya masih ketinggalan jauh. Proyeksi Kemenhub bilang, kita kekurangan hampir 19.000 perwira dan 25.000 pelaut dasar dalam lima tahun ke depan. Belum lagi data global BIMCO/ICS yang prediksi defisit 90.000 perwira kapal dunia di 2026—Indonesia bisa ambil porsi 5-6% kalau SDM-nya siap. Masalahnya, sekolah maritim kita overload lulusan dasar, tapi perwira berkualitas malah langka gara-gara kurang pelatihan pre-seleksi dan magang nyata.
Ancaman Nyata di Lautan
Bukan cuma soal jumlah, tapi kualitas juga. Illegal fishing dan pelanggaran batas di Natuna bikin kapal kita rentan, sementara armada menua dan emisi karbon ditekan IMO. Pajak ganda BBM buat pelayaran nasional tambah beban, harga kapal lokal 30% lebih mahal gara-gara impor komponen. Hasilnya? Banyak kapal didominasi pelaut asing, kedaulatan laut terancam.
Solusi dari AMAD Aceh
Akademi Maritim Aceh Darussalam (AMAD) punya jawaban segar. Program Nautika dan Teknika mereka gabung teori navigasi plus praktik di kapal asli selama 3 bulan, plus magang industri yang bikin taruna langsung siap kerja. Lebih dari 49.000 alumni sudah nyebar di pelayaran nasional-internasional, dengan 20 juta jam pelatihan riil. Gratis daftar buat yang berprestasi, dan kemitraan 100+ perusahaan pelayaran pastiin lulusan nggak nganggur.
Mulai perjalananmu di AMAD—dari Aceh, taklukkan samudra dunia. Daftar sekarang di maritimaceh.ac.id dan jadi bagian solusi krisis pelaut Indonesia.

Leave a Reply