Masih ada yang mikir jadi pelaut itu kerjaan jadul? Kotor-kotoran, jauh dari keluarga, dan nggak ada masa depan? Wah, kayaknya perlu update informasi nih. Karena faktanya, industri maritim di tahun 2026 justru lagi di puncak keemasan—dan yang punya skill pelayaran bakal jadi rebutan.
Dunia Butuh Pelaut, Indonesia Punya Peluangnya
Coba bayangin: Indonesia punya lebih dari 17.000 pulau yang dihubungkan oleh laut. Negara kita ini bukan sekadar “negara kepulauan”—kita adalah negara maritim dengan posisi geostrategis di jalur perdagangan global Indo-Pasifik.
Data terbaru menunjukkan Kementerian Perhubungan memproyeksikan kebutuhan pelaut Indonesia mencapai sekitar 8.600 orang per tahun, atau 43.806 pelaut dalam 5 tahun ke depan—terdiri dari 18.774 perwira dan 25.032 pelaut kelas dasar. Di level global, dunia membutuhkan tambahan sekitar 89.510 perwira kapal untuk mendukung industri pelayaran yang terus berkembang.
Artinya? Peluang kerja terbuka lebar, baik di kapal nasional maupun internasional.
Gaji Pelaut: Bukan Gaji UMR
Ini yang sering bikin orang melongo. Seorang Chief Engineer di kapal tanker bisa mendapat gaji hingga $7.500 per bulan (sekitar Rp115 juta!). Posisi 2nd Officer dengan sertifikat ANT II bisa meraih $2.000-2.200 per bulan. Bahkan untuk level pemula seperti Ordinary Seaman, gaji bulanan bisa mencapai $450-750 USD.
Bandingkan dengan fresh graduate yang baru kerja kantoran dengan gaji UMR—selisihnya cukup jauh, kan?
Industri Maritim 2026: Bukan Sekadar “Naik Kapal”
Kalau kamu pikir kerja di maritim cuma soal nyetir kapal dan angkat jangkar, kamu ketinggalan zaman banget. Industri pelayaran sekarang sedang transformasi besar-besaran menuju:
- Green Shipping — Kapal-kapal masa depan harus ramah lingkungan dengan teknologi dual-fuel dan energy-saving devices
- Digitalisasi Operasional — Sistem navigasi canggih, pemantauan berbasis AI, dan cyber security maritim
- Logistik Terintegrasi — Manajemen pelabuhan digital yang menghubungkan seluruh supply chain
Artinya, pelaut zaman sekarang bukan cuma butuh otot—tapi juga otak yang update sama teknologi.
“Anak Muda Kok Mau Jadi Pelaut?”
Pertanyaan ini masih sering muncul. Banyak generasi muda yang masih memandang laut sebagai sektor “kotor” atau “tradisional”, jauh dari kesan modern dan kekinian.
Padahal kenyataannya, pelaut profesional sekarang bekerja dengan peralatan canggih, punya standar keselamatan internasional, dan dibayar dengan mata uang dollar. Kapal modern dilengkapi gym, internet, dan fasilitas komunikasi untuk tetap terhubung dengan keluarga.
Yang membedakan pelaut sukses dan yang gagal bukan soal nasib—tapi pendidikan dan sertifikasi yang tepat.
AMAD: Tempat Lahirnya Pelaut Profesional Aceh
Di sinilah peran Akademi Maritim Aceh Darussalam (AMAD) menjadi krusial. Dengan program Nautika, Teknika, KPN, dan Manajemen Maritim & Logistik, AMAD tidak hanya mengajarkan teori—tapi juga praktik langsung dengan fasilitas pelatihan laut dan kapal latihan.
Kurikulum AMAD mengacu pada standar STCW (Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers) dari IMO, yang berarti lulusan AMAD diakui kompetensinya di level internasional.
Dengan lebih dari 49.545 lulusan yang sudah berkarier di industri pelayaran nasional dan internasional, AMAD membuktikan bahwa anak Aceh punya tempat di deck kapal-kapal dunia.
Jadi, Kapan Mulai?
Buat kamu yang masih ragu, coba tanya diri sendiri: mau kerja dengan gaji pas-pasan sambil stuck di kemacetan, atau berlayar keliling dunia dengan penghasilan puluhan juta per bulan?
Industri maritim nggak menunggu. Kapal-kapal terus berlayar, perdagangan global terus berjalan, dan posisi pelaut profesional terus dibutuhkan.
Pertanyaannya cuma satu: Kamu mau naik kapal, atau cuma nonton dari dermaga?
Bergabunglah dengan Akademi Maritim Aceh Darussalam—tempat di mana perjalanan maritimmu dimulai.

Leave a Reply