Indonesia menghadapi krisis SDM maritim serius dengan proyeksi kebutuhan 28 ribu pelaut dan ahli dalam 10 tahun ke depan, sementara kekurangan global capai 90 ribu perwira pada 2026. Meski punya 1,4 juta pelaut terbesar dunia, kualitas kompetensi tertinggal akibat kurikulum tak selaras industri, minim pelatihan green shipping, dan digitalisasi logistik. Biaya logistik 23% harga barang jadi beban ekonomi nasional, ancam visi poros maritim dunia.
Tantangan Industri Pelayaran Saat Ini
Kesenjangan antara pendidikan dan industri maritim perburuk daya saing pelaut Indonesia di pasar global, ditambah illegal fishing dan infrastruktur pelabuhan timpang barat-timur. Regenerasi pelaut muda terhambat kurangnya fasilitas kapal latihan dan sertifikasi internasional, sementara armada modern butuh talenta AI dan otomasi.
- Kekurangan pelaut: 16.000 untuk subholding IML + 12.000 ahli logistik.
- Kurikulum gap: Belum cover digitalisasi dan soft skills global.
- Logistik mahal: Asia Tenggara termahal, rugikan devisa Rp1 triliun/tahun.
Solusi AMAD: Praktik Laut + Magang Industri
Akademi Maritim Aceh Darussalam jawab krisis melalui program Nautika, Teknika, KPN, dan Manajemen Maritim berbasis praktik kapal nyata, 3 bulan pelatihan dasar, serta magang industri pelayaran. Fasilitas pelatihan laut dan digital siapkan taruna kompeten navigasi, mesin kapal, logistik ekspor-impor, capai 49.545+ lulusan sukses nasional-internasional.
Kemitraan luas industri beri akses sertifikasi kompetensi, gratis pendaftaran berprestasi, bentuk pelaut disiplin dan berintegritas seperti alumni Muhammad Rizky di PELNI. AMAD integrasikan teknologi terkini untuk green shipping dan keselamatan, tutup gap SDM maritim Indonesia.
AMAD posisikan Aceh sebagai pusat pelaut unggul, dukung ketahanan maritim nasional di tengah krisis global.

Leave a Reply